Fear of Missing Out (FoMO) adalah sebuah kondisi dimana individu merasa takut atau khawatir jika ia tidak mengetahui aktivitas orang lain melalui media sosial, kondisi dirinya yang demikian membuat individu tersebut harus selalu terhubung dengan dunia maya sehingga menyebabkan dirinya selalu memantau pemberitahuan yang masuk pada smartphone walaupun isi pemberitahuan tersebut tidak terlalu penting. Kemudian kondisi tersebut juga menyebabkan individu memantau kegiatan orang lain dalam setiap kesempatan baik itu ketika sedang melakukan aktivitas lain atau ada waktu luang.. Gejala FoMo bisa menghampiri siapa saja, termasuk generasi milenial (usia 18 – 28 tahun). Lantas, seberapa besar tingkat kecenderungan FoMo pada generasi tersebut? Mari kita ulas penelitian berikut:
- Identitas Jurnal
- Ringkasan
- Tanggapan
Judul : Tingkat Kecenderungan FoMO (Fear of Missing Out) Pada Generasi Millenial [1]
Penulis : Maysitoh, Ifdil, Zadrian Ardi
Universitas : Universitas Negeri Padang
Jurnal : Journal of Counseling, Education and Society, Vol. 1, No. 1, 2020, pp. 1-4
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan tingkat kecenderungn FoMO pada mahasiswa Universitas Negeri Padang. Sampel yang digunakan sebanyak 98 responden pada jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup dengan mengunakan model skala Likert. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa kecenderungan FoMO pada mahasiswa berada pada kategori rendah yaitu sebesar 47,59%.
Penelitian ini mampu menunjukkan bahwa kecenderungan FoMO pada mahasiswa dengan kategori rendah, artinya sebagian besar mahasiswa dapat menggunakan media sosial secara bijak. Kelebihan penelitian ini yakni selain mampu menunjukkan bahwa FoMO merupakan kondisi yang tidak bisa dianggap remeh, juga mampu memberikan solusi untuk mengatasinya. Kekurangan dari penelitian ini adalah belum mampu menunjukkan variabel lain yang membuat kecenderungan FoMo pada mahasiswa yang berkategori cukup tinggi mampu berada di urutan kedua sampel terbanyak.
Penulis: Ido Aryanto
