Assalamualaikum wr. wb.
Salam dan Bahagia. Sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Provinsi Jawa Barat, saya menyajikan Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ketujuh untuk Modul 2.3: Coaching untuk Supervisi Akademik. Refleksi ini disusun menggunakan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) sebagai berikut:

1. Fact (Peristiwa)
Pembelajaran Modul 2.3 ini membawa saya memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan. Melalui alur MERDEKA, saya mempelajari paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching yang meliputi kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Saya juga berlatih melakukan percakapan coaching menggunakan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab). Momen puncaknya adalah saat melakukan praktik coaching secara daring melalui Ruang Kolaborasi dan Demonstrasi Kontekstual bersama rekan sesama CGP untuk mensimulasikan supervisi akademik yang konstruktif.

2. Feeling (Perasaan)
Saya merasa sangat senang, lega, dan termotivasi setelah mempelajari modul ini. Awalnya, saya menganggap supervisi akademik sebagai momok yang menegangkan karena cenderung bersifat evaluatif. Namun, melalui pengetahuan baru ini, perasaan khawatir tersebut berubah menjadi optimisme. Saya merasa tertantang untuk mengubah pola komunikasi saya dari yang sebelumnya sering memberi instruksi atau saran secara langsung, menjadi pola komunikasi coaching yang memberdayakan melalui pertanyaan-pertanyaan berbobot.

3. Finding (Pembelajaran)
Pelajaran paling berharga yang saya temukan adalah bahwa seorang coach harus memiliki kemampuan mendengarkan aktif, kehadiran penuh (presence), dan kemampuan mengajukan pertanyaan yang memicu pemikiran kreatif coachee. Saya menyadari bahwa supervisi akademik dengan paradigma coaching bertujuan untuk pengembangan diri dan peningkatan performa guru, bukan sekadar penilaian. Esensinya bukan pada memberi solusi, melainkan menuntun coachee untuk menemukan solusinya sendiri berdasarkan kekuatan yang mereka miliki.

4. Future (Penerapan)
Ke depannya, saya berkomitmen untuk mengimplementasikan teknik percakapan TIRTA dalam berinteraksi dengan rekan sejawat di sekolah maupun kepada murid. Saya akan berupaya menjadikan supervisi akademik sebagai ruang dialog yang reflektif dan kalibratif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching, saya berharap dapat membantu rekan sejawat menemukan potensi terbaik mereka, sehingga tercipta budaya sekolah yang suportif dan saling memberdayakan demi kepentingan terbaik murid.

== Terima Kasih ==